Oktober 07, 2007

label

menjadi seorang manusia yang dianugerahi label tertentu oleh liyan...tidak enak emang...bahkan untuk label baik sekalipun [apalagi untuk label2 berkonotasi negatif yak...piuuh]
tapi bisakah sistem pembunuhan karakter manusia dengan pemberian label itu dihilangkan??
kinda a thing that we dont like but we must live with...

jadi inget waktu jaman2 masi sekolah...seseorang mudah sekali untuk diberi label "pintar dan baik" hanya karena (kebetulan) selalu rangking di kelas, (kebetulan) selalu rajin mengerjakan PR, (kebetulan) ga pernah bolos ikutan bimbingan belajar...dan karena (kebetulan) ga ngerokok, (kebetulan) ga ngedrugs, (kebetulan) ga suka bolos, (kebetulan) ga suka misuh, (kebetulan) ga suka berantem...

Once they found the object (someone with a label stuck on his back) made a mistake...a judgement will come without permission....something sound like "how could you.....????"...instead of "what's wrong with you, have any problems, what can I do for you??"
hey, dont they forget, they deal with a human being...dimana salah dan lupa merupakan default feature sejak diciptakan oleh ALLAH SWT??

Anyone wants to be treated as the way of he is...no need to give any labels, no need to hear any prejudice..can we make this world a place like that??
when I look inside me, I realized, I've ever been given a label but at the same time I also became a part of people who loved to categorized and labelled others based on my own criteria... (ouuch, seems i have to start with my self before I'd like to change others)

what's about you?have you ever had an experienced being a person with a label?


1 komentar:

sweetrie mengatakan...

Ngomomg-ngomomg soal label nih..Ada sesuatu yang sangat menarik soal proses labelisasi ini. Buka cuma dari label baju yang ditunjukkan kalo mau lebaran or bada' lebaran or event laen di mana banyak dept store yang memampang gede-gedean label "Hooiii diskon 20% atawa 30%" atawa yang lebih dahsyat lagi ada yang dengan pede-nya menampilkan "Diskon 90%". Terlepas dari bahwa proses diskon ini mungkin hanya sebuah "mark up" atau strategi perang ala Sun-Tzu dari marketing masing-masing dept store, tapi yang jelas di samping memang karena kebutuhan, strategi ini cukup mumpuni untuk menjaring atensi dari konsumen or calon konsumen. So, dari sini muncul deh yang namanya brand image atau singkatnya kita sebut aja si "I". Seperti halnya "I" buat produk barang or jasa, orang pun butuh si "I" ini. Ada sebuah sinetron remaja yang cukup menyentil karena sedikit menyinggung soal ini (he...he..serasa masih remaja aja. Eh bukannya emang iya??:P). Kalo gak salah (berarti bener doonk!) judulnya "Good boy vs Good Girl". Di sinetron ini ada 2 orang remaja co n ce, keduanya pinter & cakep (kayak aku?). Nah, si ce ini adalah murid teladan di sekolah selama bertahun-tahun dengan "I" tadi itu pinter, cakep, ramah pokoke yang PERFECTO banget deh! Tapi ternyata dia memang sengaja menampilkan "I" seperti itu dengan tujuan supaya bisa mendapat gelar sebagai siswa teladan dan mendapatkan beasiswa karena penghasilan ayahnya sebagian besar harus digunakan untuk membiayai biaya hidup ibunya yang sedang menempuh kuliah di luar negeri. So, mereka terpaksa hidup superd uper ngirit. Padahal sebenarnya si ce ini just an ordinary girl, yang masih suka ngomel-ngomel gak jelas, iseng, serampangan, males mandi, males bangun pagi, etc (uuuupss...ada yang tersinggung gak ya?). So balik lagi ke soal si "I" ini. The question is "Does she make a mistake?". Kalo berkaca pada strategi Blue Ocean or nanya ke Hermawan Kertajaya, mereka pasti bilang, "There's still in a line." Tapi akan sangat mungkin banyak yang bilang, "Eh loe cewek palsu!!!" So, seperti halnya mata uang, peluang terhadap pemilihan satu sisi mata uang itu selalu sama 50-50. Cuma mungkin terkadang hal ini menjadi tidak balance ketika tensi publik lebih mengarahkan kita cenderung kepada suatu pilihan. Mungkin kita perlu menonton lagi PPT (Para Pancari Tuhan) kali yee, supaya bisa mulai mendengar nurani yang dikasih Tuhan ke kita.:) So finally,the ball is always in your hand. D2@rt ----This is only an ordinary opinion from an ordinary people----